UA-65026883-1

News Published 16 July 2015
 
 
 Demam batu mulia (gemstone) benar-benar sedang melanda Indonesia. Hal ini ditandai dengan beralihnya topik bahasan warga, dari urusan politik ke hal ihwal batu mulia. Ditambah lagi dengan berbagai kontes batu mulia yang berlangsung di sejumlah daerah dengan hadiah yang cukup besar. Akibatnya, harga batu mulia asli Indonesia melonjak tajam mencapai angka yang fantastis.

Salah satu jenis batu mulia yang sedang naik daun saat ini, dikenal dengan nama Indocrase Aceh. Indocrase Aceh sejenis batu mulia berkristal, jernih dan membiaskan cahaya setelah digosok menjadi mata cincin. Permintaan pasar terhadap batu mulia jenis ini terus meningkat. Konsumennya bukan hanya berasal dari dalam negeri, beberapa pembeli asal Taiwan dan Korea ikut berburu batu mulia itu. Mereka sengaja datang ke Takengon Aceh Tengah demi sebongkah Indocrase Aceh asli.

Meningkatnya permintaan Indocrase Aceh dengan iming-iming harga yang makin fantastis membuat warga tergiur. Demi sebongkah Indocrase Aceh, warga mulai menyusuri sungai-sungai deras di belantara Aceh. Mereka naik-turun gunung tanpa kenal lelah. Mereka masuk-keluar hutan tanpa rasa takut akan ancaman binatang buas.

Dengan perbekalan dan perlengkapan seadanya, mereka nekat menginap berhari-hari di tengah rimba perawan itu. Semua orang tahu bahwa kawasan itu dikenal sebagai sarang binatang buas. Seandainya terjadi sesuatu terhadap mereka, tidak ada yang bisa dihubungi. Di sana tidak terjangkau sinyal handphone, yang terdengar hanya bunyi hewan-hewan penghuni rimba.

 

1422765788599255116
Saya coba masuk sungai, airnya sedingin es
Sabtu (31/1/2015) lalu, saya mencoba mengintip aktivitas para pencari batu mulia Indocrase Aceh di sebuah tempat bernama Wih Keruh, Desa Pantan Reduk Kecamatan Linge Aceh Tengah. Perjalanan menuju ke tempat itu lumayan jauh dan melelahkan. Selain permukaan jalannya yang cukup parah, jaraknya dari Kota Takengon (ibu kota Kabupaten Aceh Tengah) cukup jauh, yaitu sekitar 60 kilometer.

 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, sekitar pukul 15.00 WIB saya tiba di lokasi pertama tempat warga menyimpan sepeda motor. Lokasi itu dibelah oleh sungai Wihni Jagong yang hulunya di Desa Lumut dan bermuara ke Kabupaten Aceh Barat. Di dalam sungai itu terlihat sejumlah orang yang sedang mencari bongkahan batu. Saya pun tergiur dan mencoba masuk dalam sungai itu. Puihhhh, airnya luar biasa dingin, seperti air es.

Ruhuddin (52) salah seorang warga setempat menuturkan bahwa bongkahan batu mulia di sungai itu sudah habis ditambang warga. Kalaupun ditemukan hanya bongkahan kecil yang kualitasnya lebih rendah. Warga mulai menambang ke arah hulu yang jaraknya dua hari berjalan kaki dari lokasi pertama itu.

Sekitar pukul 16.15 WIB, saya melihat beberapa lelaki keluar dari semak-semak dengan menyandang jerigen di punggungnya. Di belakangnya menyusul seorang laki-laki yang memanggul mesin pembelah batu. Dalam jerigen itu terlihat bongkahan batu mulia Indocrase Aceh yang terkenal itu. Seperti dikatakan Ruhuddin, mereka adalah penambang batu mulia yang sedang pulang setelah berhari-hari menyusuri hulu sungai Wih Jagong.

Dari kejauhan terdengar bunyi mesin pemotong batu. Dugaan saya bahwa tidak jauh dari lokasi pertama ini ada orang sedang menambang batu mulia. Saya mendekat ke arah bunyi itu dengan meniti sebatang pohon. Benar, sekitar dua puluh meter dari lokasi pertama terlihat 4 orang laki-laki sedang membelah bongkahan besar Indocrase Aceh yang berada di tengah sungai.

 

1422793803192959335
Menyeberang diatas sebatang kayu.
Operasi pembelahan batu mulia itu dipimpin oleh Mizan (40) bersama tiga orang lainnya. Menurut Mizan, berat batu tersebut mencapai 7 ton. Berulang kali bongkahan itu diangkat dari dalam sungai, tetapi selalu gagal. Oleh karenanya, mereka terpaksa memotong bongkahan itu langsung di dalam sungai. Sebelumnya, mereka telah mengalihkan aliran air dengan menyusun bebatuan sebagai penghalang arus air.

 

Bongkahan batu mulia itu tergolong jenis Indocrase Aceh yang bernama bio-solar. Inti dari bongkahan itu berwarna hijau kecoklatan. Warna lain yang terlihat pada bongkahan itu adalah hijau pucuk pisang, putih kehijau-hijauan, dan putih salju. Bongkahan jenis itu di pasaran dihargai sekitar Rp 800 ribu per kilogram.